07 Februari 2009

Prosesi Budaya dan Lontong Capgomeh



Suasana perayaan Capgomeh pada masa lalu sungguh mengesankan. Setidaknya itulah kenangan sejumlah warga keturunan Tionghoa. Capgomeh adalah hari kelima belas setelah perayaan Tahun Baru Imlek. Perayaan puncak Capgomeh diisi pelbagai keramaian, seperti arak-arakan patung dewa dan sesembahan di kuil, serta atraksi budaya.

Pada akhir tahun 1970-an, arak-arakan Capgomeh masih berlangsung meriah di Kota Bogor. Aksi menggotong dewa, barongsai, liong, dan peragaan menusuk tubuh serta memotong lidah menarik minat ribuan warga yang tumpah ruah di Jalan Surya Kencana (dulu Jalan Perniagaan yang merupakan terjemahan dari penamaan Belanda: Handel Straat).

Sedangkan di kota-kota kecil di Jawa Tengah dan Jawa Timur digelar pertunjukan wayang kulit selama 15 malam sejak Imlek hingga Capgomeh. Pengamat budaya Tionghoa, Eddie Prabowo Witanto, masih ingat betul keramaian pertunjukan wayang kulit di kelenteng kota kelahirannya di Kebumen, Jawa Tengah.

”Sayang budaya tersebut lambat laun terkikis. Generasi muda Peranakan pindah ke kota atau ke luar negeri. Kegiatan yang jadi sarana silaturahmi seluruh warga itu menghilang,” kata Eddie Prabowo.

Kini perayaan Capgomeh mulai dihidupkan lagi, terutama melalui arakan budaya. Menurut rencana, di Bogor dan Jakarta, kegiatan tersebut digelar sepanjang Senin (9/2). Tidak hanya seni Tionghoa dan Peranakan, seni Betawi, Sunda, Jawa, Banten, dan suku lain tampil bersama menyajikan keindahan serta kebesaran Indonesia.

Dulu, perayaan Capgomeh juga menjadi ajang kumpul keluarga. Salah satu hidangan wajib dalam pertemuan itu tentu saja lontong atau ketupat capgomeh.

”Tetapi sekarang selesai sembahyang di kelenteng biasanya lalu pergi jalan-jalan. Hanya para orangtua yang bertahan menyediakan ketupat ini,” kata Lien, warga Senen yang ditemui saat menikmati ketupat capgomeh di Ketupat Gloria 65 di Jalan Pancoran, Jakarta Barat.
Toh, biasanya setelah melihat perayaan Capgomeh di Kelenteng Jin De Yuan Petak Sembilan, warga langsung menyerbu Ketupat Gloria.... (ONG/TRI)

28 Januari 2009

Hari-hari Terakhir Rumah Tionghoa

Kompas, 28 Januari 2009
Oleh: Iwan Santosa dan Soelastri Soekirno
http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/28/0044049/hari-hari.terakhir.rumah.tionghoa

Semak belukar, tumpukan batu bata, dan sisa puing teronggok di sisi bangunan landhuis atau rumah tuan tanah berarsitektur Tionghoa dan Indisch di Karawaci, Kota Tangerang. Bangunan bersejarah peninggalan tuan tanah perkebunan yang tersisa di Nusantara itu dibiarkan hancur perlahan-lahan.

Tidak terlihat papan pengumuman benda cagar budaya dari pemerintah setempat yang menunjukkan rumah tersebut adalah saksi sejarah perkembangan Kota Tangerang modern.

”Akhirnya tempat ini dibongkar di bagian paseban dan bagian tengah. Saya sempat menyaksikan pembongkarannya. Sayang sekali. Dahulu tempat ini merupakan kediaman Kapiten Oei Djie San,” kata Oei Cin Eng, warga Tangerang yang menemani Kompas mengunjungi rumah bersejarah itu.

Rumah Kapiten Oei Djie San merupakan satu-satunya bangunan tersisa dari jenis landhuis perkebunan di Jawa. Rumah itu menghadap Sungai Cisadane yang menjadi sumber air perkebunan tebu dan persawahan di Tangerang. Bagian belakang rumah tersebut memiliki gaya arsitektur Indisch—gabungan Eropa dan Nusantara—yang digunakan Kapiten Oei Djie San menerima tamu bangsa Belanda atau Eropa lainnya.

Kemegahan dan sejarah rumah itu tinggal kenangan.

Bagian paseban atau halaman depan rumah itu yang menghadap Sungai Cisadane dibongkar rata dengan tanah akhir tahun 2008. Bahkan, patung Singa Batu dari Tiongkok yang menjaga rumah—seperti Patung Dwarapala pada rumah Jawa—juga dibongkar dan telah lenyap dari rumah itu.

Menurut Cin Eng, mandor pembongkaran rumah tersebut, paseban rumah itu dibeli oleh seorang kolektor. Sedangkan pelbagai komponen rumah diangkut pemulung.
Sejarawan Mona Lohanda yang menulis tentang Kapiten China di Batavia menyayangkan perusakan rumah Kapiten Oei Djie San.

Pengamat budaya Tionghoa Peranakan, Eddi Prabowo Witanto, mengecam keras perusakan landhuis Karawaci.

”Setelah Gedung Candranaya dirusak, kini satu-satunya landhuis khas Tionghoa dengan rumah berbentuk tapal kuda dibiarkan hancur. Sayang tidak ada perhatian dari pemerintah ataupun pengusaha besar yang mau merawat rumah-rumah peninggalan sejarah ini. Padahal, di Singapura, rumah berarsitektur Tionghoa yang dihancurkan, kembali dibangun seperti asli demi menjaga warisan sejarah,” kata Eddi Prabowo.

Hancurnya Candranaya

Kerusakan juga menimpa bangunan bersejarah berlanggam arsitektur Tionghoa di Jakarta dan Bogor. Gedung Candranaya, peninggalan Mayor Khow Kim An—Officier der Chinesen terakhir di Hindia Belanda—di Jalan Gajah Mada, Jakarta, kini dalam keadaan rusak berat.

Dalam pantauan, seluruh bangunan sayap Gedung Candranaya (dulu Sing Ming Hui) sudah dihancurkan. Demikian pula kolam dan ornamen-ornamen bangunan dalam keadaan rusak.
Bagian dalam bangunan Candranaya yang tersisa, dalam pantauan Sabtu (24/1), terlihat dicat baru di beberapa tempat.

Kegiatan fisik atas bangunan bersejarah sebetulnya harus diawasi instansi terkait dan tidak bisa menggunakan bahan kimia tertentu seperti cat yang belum diketahui komposisinya. Tindakan tersebut dilakukan agar upaya renovasi tidak merusak kondisi asli bangunan.

Kerusakan juga terlihat di rumah keluarga Souw di Jalan Perniagaan di dekat Pasar Perniagaan, Jakarta Barat. Rumah bergaya arsitektur Tionghoa tersebut didiami marga Souw keturunan Kapiten Souw Beng Kong, seorang perintis Kota Batavia modern tahun 1619.

Salah satu sayap bangunan rumah keluarga Souw dihancurkan akibat proyek pembangunan Pasar Perniagaan.

Tidak jauh dari lokasi tersebut, sederet rumah Tionghoa di Blandongan dekat Toko Tiga juga dalam keadaan telantar. Asen, seorang warga, mengatakan, rumah-rumah tersebut merupakan bangunan yang disita oknum penguasa pasca-G30S PKI dan kini tidak dirawat. ”Sebetulnya bangunan-bangunan itu bisa difungsikan sebagai perpustakaan atau Museum Sejarah Tionghoa di Jakarta,” kata Asen.

Sisa bangunan Tionghoa di kawasan Pecinan Glodok-Pancoran juga semakin menyusut drastis. Tidak terlihat upaya pelestarian terhadap benda cagar budaya yang tersisa.
Kondisi serupa terlihat di Bogor. Rumah berarsitektur Tionghoa di Jalan Suryakencana, Jalan Roda, dan Jalan Lawang Seketeng nyaris tidak tersisa.

Setiadi Sopandi, pengamat arsitektur, mengecam perusakan peninggalan sejarah tersebut. ”Bogor memiliki kekayaan bangunan bersejarah dengan gaya Belanda, Indisch, Sunda, dan Tionghoa. Sayang kalau tidak dilestarikan,” kata Setiadi.

Meski secara perekonomian banyak pengusaha besar lahir dari komunitas Tionghoa, jejak sejarah bangunan Tionghoa tidak dilestarikan.

Kini, bangunan modern atau rumah toko berbentuk kotak seperti kulkas berdiri di lokasi bangunan-bangunan bersejarah yang diruntuhkan. Sungguh ironis, sukses di bidang ekonomi tidak diikuti peningkatan selera dan kesadaran untuk melestarikan bangunan bersejarah.

27 Januari 2009

Refleksi Imlek 2560: Semangat Kerbau demi Solidaritas

oleh Mustofa Liem PhD
Harian Padang Ekspres Selasa, 27 Januari 2009

Tahun Baru Imlek 2560 jatuh pada 26 Januari 2009 Masehi. Sejarah mencatat, penanggalan Imlek dimulai pada 2637 SM, sewaktu Kaisar Oet Tee/Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan siklus pertama pada tahun ke-61 masa pemerintahannya. Imlek semula memang dirayakan oleh suku bangsa yang berlatar belakang budaya Tiongkok. Lalu, dalam perkembangannya, para tetangga Tiongkok seperti orang Mongol, Korea, Jepang, Vietnam, Laos, dan Kamboja juga ikut merayakannya.Bagaimana Imlek di negeri kita? Ada pasang surut. Nasib Imlek di negeri ini tidak bisa dilepaskan dari kooptasi negara terhadap etnis Tionghoa. Waktu dijajah Belanda, Imlek pernah dilarang untuk dirayakan. Pada penjajahan Jepang, Imlek pernah menjadi hari libur resmi berdasar keputusan Osamu Seirei No 26 Tanggal 1 Agustus 1942. Itulah kali pertama dalam sejarah Tionghoa di Indonesia Imlek menjadi hari libur, yaitu Imlek pada 1943 Masehi. Pada era Soekarno mulai 1945-1964, Imlek boleh dirayakan. Namun, selama era Soeharto, mulai Imlek 1965-1998, tahun baru yang berawal dari adat petani di Tiongkok itu menjadi barang larangan. Semua kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa tidak boleh dilakukan lagi, termasuk Imlek. Larangan itu tertuang dalam Inpres No 14/1967.

Pelarangan Imlek di era penjajahan Belanda atau pada era Orba mengindikasikan peran etnis Tionghoa sungguh dimarginalkan. Tionghoa hanya dijadikan minoritas perantara atau middlemen minority (meminjam istilah sejarawan Kwartanada dari National University di Singapura). Perantara di sini, maksudnya, golongan Tionghoa hanya dimanfaatkan sebagai perantara atau mesin pencetak uang atau binatang ekonomi. Peran seperti itulah yang kemudian gampang memicu konflik karena Tionghoa dianggap oportunis dan propenguasa.

Mereka juga dicap kaya. Padahal, menurut penelitian pakar masalah Tiongkok Eddy Prabowo Witanto dari UI, 65 hingga 70 persen masyarakat Tionghoa di Indonesia berasal dari kelas marginal alias miskin papa. Syukurlah, lewat Keppres RI No 6/2000, Presiden Gus Dur, si Bapak Tionghoa Indonesia, mencabut inpres yang memarginalkan etnis Tionghoa di segala bidang dan hanya menjadikan etnis Tionghoa sebagai binatang ekonomi. Megawati menindaklanjuti Gus Dur dengan mengeluarkan Keppres No 19/2002 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional (Imlek resmi libur nasional mulai 2003).

Jaminan Kesetaraan
Malah pada era SBY, berembus angin segar bahwa etnis Tionghoa sungguh diterima sebagai bagian integral bangsa ini. Bukan hanya Imlek tetap bebas dirayakan. Malah, ada regulasi yang menjamin kesederajatan atau kesetaraan etnis Tionghoa dengan anak bangsa yang lain. Contohnya UU No 12/2006 tentang Kewarganegaraan. Lewat UU itu, tidak ada sekat-sekat lagi antara pribumi dan nonpribumi. Siapa pun, termasuk etnis Tionghoa, yang lahir di negeri ini adalah WNI. Malah baru-baru ini, bertepatan dengan Peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2008, diresmikan UU Antidiskriminasi ras dan etnis. Siapa pun yang terbukti melakukan diskriminasi bisa diancam hukuman penjara. Itu jelas merupakan garansi bahwa secara politik etnis Tioghoa setara atau sederajat dengan anak bangsa yang lain.

Dengan iklim yang kondusif di era SBY, jelas setiap etnis Tionghoa di negeri ini ditantang untuk menunjukkan kontribusi yang lebih positif ke depan. Peran perantara sebagai "binatang ekonomi" yang berkonotasi negatif jelas harus dilepas. Tapi, peran perantara yang bisa menjembatani kepentingan banyak elemen bangsa mutlak harus diambil. Mengapa? Pasalnya, etnis Tionghoa di negeri ini tidak bisa dikait-kaitkan dengan agama tertentu karena Tionghoa di negeri ini bisa beragama apa saja (mulai Islam, Kristen, Tao, Buddha, Konghucu).

Solidaritas
Tahun Baru Imlek 2560 ini, sesuai dengan perhitungan, merupakan Tahun Kerbau dengan unsur tanah. Sang kerbau dideskripsikan sedang dalam perjalanan. Tanah punya makna negatif atau mengandung potensi buruk. Poin pentingya, Tahun Kerbau kali ini menuntut setiap etnis Tionghoa perlu bekerja lebih keras untuk mencapai keberhasilan atau setidaknya mempertahankan apa yang sudah ada di genggaman. Kita perlu bekerja keras seperti kerbau. Tentu saja ini cocok dengan kondisi ekonomi kita yang lagi terimbas krisis keuangan global.

Karena itu, setiap etnis Tionghoa -khususnya yang menjadi pelaku ekonomi- punya tugas menopang ekonomi negeri ini agar bisa bertahan dan selamat dari tsunami ekonomi global. Dengan kata lain, kita tidak boleh mencari selamat sendiri dalam kondisi seperti ini. Harus ada solidaritas nyata, khususnya kepada saudara-saudara sebangsa yang sudah jadi korban krisis keuangan global.

Solidaritas sejati harus terus diasah dengan cara terus ditunjukkan. Bukan dengan motif untuk tebar pesona atau mencari pujian manusia lain serta mencari keuntungan politik. Dalam konteks ini, solidaritas jelas tidak cukup dengan angpau uang recehan, tetapi terlebih dengan ikut menciptakan iklim usaha yang berorientasi kepada kemanusiaan, bukan mengejar profit semata. CSR atau tanggung jawab sosial perusahaan, misalnya, harus lebih diwujudnyatakan untuk bisa mengangkat martabat saudara-saudara sebangsa yang hidup di bawah garis kemiskinan. Contohnya, menyekolahkan sebagaian anak kaum miskin agar tak jadi korban BHP. Dengan demikian, mereka juga bisa turut merasakan kegembiraan Imlek. (Mustofa Liem Phd, dewan Penasihat Jaringan Tionghoa untuk Kesetaraan)

15 Januari 2009

Acong: Caleg No 9 PDI-Perjuangan – Bagian ke-1

oleh Kenken/Indonesia Media
http://www.indonesiamedia.com/2009/1/MID/serba_serbi/Acong.html

Di ujung barat pulau Jawa, ada koloni keturunan Tionghoa. Koloni Tionghoa ini sering disebut sebagai "Cina Benteng". Suma Mihardja, aktifis-cum-intelektual Tionghoa, memperkirakan jumlah Tionghoa Benteng ini mencapai 4 juta orang. Tersebar di seluruh pelosok provinsi Banten. "Cina mah sampe ngelinduk di daerah bebulak juga ada", kata Acong dalam bahasa Sunda pinggiran. Artinya kurang-lebih, Tionghoa Tangerang bisa dijumpai sampai pelosok hutan-hutan antah berantah yang hanya bisa dimasuki dengan berjalan kaki. "Dulu, istilah Tangerang tidak dikenal. Orang-orang sebut Benteng. Bis-bis dari Jakarta juga nyebutnya 'benteng-benteng' bukan Tangerang", kata Yap Bok Lim, seorang pengurus kelenteng Boen Tek Bio.

Istilah "Cina Benteng" berasal dari kehadiran sekelompok Tionghoa Hokien yang berdiam di sekitar Benteng Makasar. Lokasinya di tepi Sungai Cisadane. Saat ini, lokasi tersebut merupakan pusat kota Tangerang. Sedangkan konsentrasi pemukiman Tionghoa berada di sekitar daerah yang sekarang disebut Pasar Lama sampai Sewan dan Kampung Melayu di sebelah utara. Benteng Makasar dibangun oleh Gubernur Jenderal Zwaardeczon di awal tahun 1700-an. Setelah pembangunannya selesai, benteng ini diisi oleh 60 orang Eropa dan 30 orang hitam yaitu serdadu Belanda beretnisMakasar. Namun sejak tahun 1812, benteng ini sudah terbengkalai. Sekarang di lokasi bekas Benteng Makasar berdiri pusat perbelanjaan Robinson.

Sekitar 1 km dari lokasi bekas Benteng Makasar terdapat daerah basis Tionghoa bernama Karawaci. Di daerah ini, Lim Han Tiong alias Hendra lahir pada tanggal 1 September 1981. Karena cadel, nama panggilan A-Tiong keliru diucapkan hingga akhirnya ia dikenal dengan nama Acong. Acong adalah keturunan langsung dari Tionghoa Benteng. Ia anak pertama dari 4 bersaudara. Entah sudah berapa generasi ia hidup di Tangerang. "Udah gak keitung berapa generasi. Makanya jadi cina benteng", kata Acong.

Eddy Prabowo Witanto MA, seorang 'sinolog' UI memperkirakan masyarakat Tionghoa Benteng mulai menetap di daerah Tangerang sejak tahun 1700-an. Tetapi tampaknya koloni Tionghoa Hokien telah ada di daerah Banten sejak tahun 1500-an. Kapiten Pertama Tionghoa bernama Souw Beng Kong (Bencon) sudah menjadi tuan tanah dan pemilik perkebunan lada di Banten sejak awal 1600-an. Tahun 1619, ia diminta oleh Jan Pieterszoon Coen untuk membangun kota Batavia. Souw Beng Kong datang ke Batavia bersama sekitar 170 keluarga Tionghoa dari Banten.

Umumnya, masyarakat Tionghoa Tangerang berprofesi petani, pedagang, buruh dan peternak. Peristiwa Gedoran (1946) dan Gestok (1965) menyebabkan trauma besar di alam berpikir politik komunitas Tionghoa Tangerang. Sehingga tidak banyak Tionghoa Benteng tertarik masuk ke arena politik praktis. Hanya ada satu Tionghoa Benteng yang menjadi anggota DPRD di periode akhir Orde Baru. Namanya Tap-Tap alias Krisna Gunata yang kemudian masuk Islam, menjadi mualaf.

Kasak-kusuk di pasar menuding, Tap Tap masuk Islam untuk mengamankan posisi politiknya di DPRD. Kebenarannya hanya Tuhan yang tahu. Masyarakat Tangerang memiliki sebuah istilah untuk menggolongkan Tionghoa Mualaf. Mereka menyebutnya sebagai "adul". Banyak tokoh terkenal di daerah Banten masuk golongan "adul". Contohnya Edi Soelaiman, ketua Solidaritas MasyarakatIslam Tangerang (SMIT). Periode 2004-2009, tercatat ada 3 orang etnis Tionghoa menjadi anggota Dewan di Banten. Selain Krisna Gunata, ada Abas dan Budi Krisnanto Wijaya.

Tahun 2008, bursa pilkada Tangerang Kota diwarnai riak kehadiran bakal calon walikota Tangerang bernama Tan Chen Yu alias Yudi Frianto. Chen Yu adalah seorang paranormal, ahli fengshui sekaligus boss sarang burung walet dari Curug. Sayangnya, 'bang Yudhi' (demikian ia dipanggil) gagal menembus bursa calon-walikota. Hanya sampai 'bakal-calon- walikota'. Sampai sekarang, Baliho besar foto Chen Yu berdiri tegak di halaman markas Yudhi Centre di Jalan Kisamaun yang dijaga oleh seorang tua bernama Oey Jin Eng.

Di Pemilu 2009, Provinsi Banten memiliki sedikitnya 3 nama etnis Tionghoa yang maju menjadi calon anggota legislative tingkat dua di daerah pemilihan berbeda. Mereka adalah Sugianto (teman SMA Tan Chen Yu), Budi Krisnanto Wijaya dan Hendra. Ketiganya berasal dari PDI Perjuangan. Hendra atau Acong adalah kandidat termuda, berusia 27 tahun.Acong berasal dari keluarga sederhana, anak seorang pemiliki warung langsam bernama Lim Yang Boen. Rumahnya cukup sederhana, 100m dari Sekolah Budi yang dimiliki Yayasan Boen Tek Bio. Ada altar penghormatan untuk kakek di ruang tamu rumahnya yang sering dijadikan tempat pemuda berkumpul dan berdiskusi masalah keagamaan, sosial dan politik.

Sekalipun telah masuk kancah politik praktis, Acong tidak pernah merasa telah menjadi seorang politisi. Ia lebih nyaman mengidentifikasi diri sebagai 'aktifis Budhis'. Sebagaimana umumnya umat Budha, Acong memiliki nama Budhis yaitu Hema Viriyo, artinya seorang yang memiliki semangat emas. Nama ini diberikan oleh Bhante Jyotidhammo tahun 1996, ketika Acong baru berusia 13 tahun. Kisahnya berawal dari kenekatan Acong untuk tetap mengikuti pelatihan menjadi Bhikkhu (Pabajja) di Vihara Mendut, Jawa Tengah. Padahal kuota jumlah peserta pabajja telah melampaui ambang batas 50 orang. Jumlah peserta yang diterima sudah mencapai angka 52 orang.

Bhante Jyotidhamma beralasan usia Acong masih terlalu muda. Tetapi Acong tetap datang ke vihara Mendut. Pihak penyelenggaran pabajja tetap menolak kehadiran Acong. Akhirnya Acong mengalah. Sebelum memutuskan untuk kembali ke Tangerang, Acong menghadap kebesaran Sang Buddha di candi Borobudur. Ada legenda yang sering diyakini masyarakat bahwa jika seseorang mampu menggapai tangan atau kaki patung Buddha yang berada di salah satu stupa candi Borobudur, maka cita-cita orang itu akan terkabul.

Karena galau, secara membabi-buta Acong menjulurkan tangannya ke dalam stupa. Ia tidak tahu bagian mana dari rupa Sang Buddha yang berhasil ia gapai. Acong beranjak kembali ke Vihara Mendut. Setelah puas berkeluh-kesah di hadapan Sang Buddha di candi megah yang dibangun sekitar tahun 800-an masehi oleh wangsa Syailendra, penganut agama Budha Mahayana. Sesampainya di halaman Vihara Mendut, Acong disambut Bhante Jyotidhammo. "Kamu yang bernama Hendra?" tanya Bhante. Kemudian Bhante Jyoti mengabarkan bahwa Acong diperbolehkan mengikuti pabajja. Alasannya, karena 3 orang peserta mengundurkan diri. Sehingga tersedia 1 tempat kosong untuk Acong. Semerta-merta, Acong merasakan dukungan dari Sang Buddha. Ia mengikuti pabajja selama 2 minggu. Karena semangatnya itulah maka Bhante Jyotidhammo
(Bersambung ke edisi berikutnya)

04 Desember 2008

Gedung Tua di Tangerang Dibongkar

Kompas, 4 Desember 2008

Sebuah gedung tua bersejarah perpaduan arsitektur Indisch-Belanda dan Tionghoa peninggalan Kapiten China Oei Djie San di Karawaci, Kota Tangerang, sudah dibongkar sebagian dan menyisakan puing-puing.

Dalam pantauan Rabu (3/12) paseban belakang rumah, bagian tengah, dan sederet ruang di belakang gedung utama sudah dibongkar rata tanah. Lokasi rumah itu berdekatan dengan Sungai Cisadane.

Rumah tua berarsitektur Indisch-Eropa dan Tionghoa dalam satu kompleks itu merupakan satu-satunya yang tersisa di Indonesia.

Pengamat budaya peranakan, Eddie Prabowo Witanto yang kini mengajar di Beijing, Republik Rakyat China menyayangkan pembongkaran itu.

”Itu satu-satunya rumah kuno perkebunan karet dengan arsitektur campuran yang tersisa. Dari sisi arsitektur Tionghoa rumah itu juga satu-satunya yang tersisa dari rumah berarsitektur Si He Yuan (ladam kuda) setelah Gedung Candra Naya di Jakarta Barat dirusak,” kata Eddie.

Leman, warga setempat mengatakan, pembongkaran berlangsung sekitar sebulan silam. "Kayu-kayu dan batu nisan Tionghoa juga diangkut. Rumah itu dulu milik tuan tanah perkebunan karet. Engkong saya yang bernama Kuntul mendapat bagian tanah dari tuan tanah yang kini diwakafkan sebagai kuburan,” kata Leman.

Rumah itu pada masa lalu pernah dijadikan tempat shooting film Si Pitung dan sejumlah kegiatan budaya. Menurut Leman, tuan tanah yang juga dikenal sebagai Kapiten Oei Djie San dikenal dermawan dan memiliki tanah perkebunan luas di Dadap, Sabi, dan Bencongan. Kapiten Djie San mengembangkan budidaya karet dan kelapa di tanah perkebunan.

Sejarawan Mona Lohanda mencatat Oei Djie San memiliki tanah perkebunan warisan keluarga di Karawaci-Cilongok. Mona juga menyayangkan pembongkaran rumah bersejarah tersebut. Rumah itu merupakan salah satu saksi sejarah perkembangan Tangerang dan kota Batavia.

Oei Cin Eng, seorang sesepuh warga setempat, menjelaskan, konon bangunan itu dibongkar seorang kolektor yang akan membangun kembali sebagian rumah tua itu di Jakarta Selatan. ”

Usia kompleks bangunan itu bisa jadi lebih dari dua abad. Buyut dari Kapiten Oei Djie San tercatat pada awal abad ke-19 sudah menyumbang di Kelenteng Boen Tek Bio,” kata Cin Eng.

Sejauh ini tidak terlihat adanya papan petunjuk bangunan cagar budaya di lokasi bersejarah tersebut.

07 Mei 2008

Liputan Budaya Benteng Mahasiswa Fikom

http://www.tarumanagara.ac.id/index.aspx?n=48&s=285

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara membuat Film pendek tentang Budaya Tionghoa Benteng di kawasan Tangerang. Rekaman gambar audio – visual itu dipakai sebagai dokumentasi untuk mempelajari karakteristik budaya - budaya yang ada di Indonesia dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan indutri informasi dan media.










Nenek moyang dari masyarakat Cina Benteng di Tangerang adalah Cina Hokkian yang datang ke Tangerang dan tinggal turun-temurun di kawasan Pasar Lama. Mereka masuk dengan perahu melalui Sungai Cisadane sejak lebih 300 tahun silam. Sejarah Cina Tangerang ini sendiri memang sulit dipisahkan dengan kawasan Pasar Lama (Jalan Ki Samaun dan sekitarnya) yang berada di tepi sungai dan merupakan permukiman pertama masyarakat Cina di sana. Struktur tata ruangnya sangat baik dan itu merupakan cikal-bakal Kota Tangerang. Mereka tinggal di tiga gang, yang sekarang dikenal sebagai Gang Kalipasir, Gang Tengah (Cirarab), dan Gang Gula (Cilangkap). Sayangnya, sekarang tinggal sedikit saja bangunan yang masih berciri khas pecinan.









Pada akhir tahun 1800-an, sejumlah orang Cina dipindahkan ke kawasan Pasar Baru dan sejak itu mulai menyebar ke daerah-daerah lainnya. Menurut Tagara Wijaya, yang bernama asli Oey Tjie Hoeng (77), yang menjabat Ketua Umum Klenteng Boen Sen Bio (1967-1978), Pasar Baru pada tempo dulu merupakan tempat transaksi (sistem barter) barang orang- orang Cina yang datang lewat sungai dengan penduduk lokal. Mengenai asal-usul kata Cina Benteng, menurut sinolog dari Universitas Indonesia, Eddy Prabowo Witanto MA, tidak terlepas dari kehadiran Benteng Makassar. Benteng yang dibangun pada zaman kolonial Belanda itu-sekarang sudah rata dengan tanah-terletak di tepi Sungai Cisadane, di pusat Kota Tangerang. Pada saat itu, kata Eddy, banyak orang Cina Tangerang yang kurang mampu tinggal di luar Benteng Makassar. Mereka terkonsentrasi di daerah sebelah utara, yaitu di Sewan dan Kampung Melayu. Mereka berdiam di sana sejak tahun 1700-an. Dari sanalah muncul, istilah “Cina Benteng”. Dalam perjalanan sejarahnya, masyarakat cina benteng juga mengalami gelombang pasang surut kehidupan. Pada jaman revolusi ditahun 1946 telah terjadi gelombang pembunuhan massal yang kejam terhadap warga Cina Benteng ini dan banyak yang mengungsi untuk menyelamatkan hidupnya lari ke Jakarta dan sebagian ditampung di gedung Sin Ming Hui (Chandra Naya).









Masyarakat Cina Benteng adalah bahwa mereka sudah berakulturasi dan beradaptasi dengan lingkungan dan kebudayaan lokal. Dalam percakapan sehari-hari, misalnya, mereka sudah tidak dapat lagi berbahasa Cina. Logat mereka bahkan sudah sangat Sunda pinggiran bercampur Betawi. Ini sangat berbeda dengan masyarakat Cina Singkawang, Kalimantan Barat, yang berbahasa Cina meskipun hidup kesehariannya juga banyak yang petani miskin. Logat Cina Benteng memang khas. Ketika mengucapkan kalimat, “Mau ke mana”, misalnya, kata “na” diucapkan lebih panjang sehingga terdengar “mau kemanaaaa”.

Secara umum, mata pencaharian utama masyarakat Cina Benteng lebih dikenal sebagai petani, nelayan atau peternak babi yang berpenghasilan rendah dan miskin, terutama yang hidup dipedesaan. Mayoritas masyarakat Cina Benteng adalah penganut kepercayaan Taoisme, Konghucu dan Buddhisme. Kecuali Buddhisme yang berasal dari India, Taoisme dan Konghucu bersumber dan berasal dari Tiongkok. Kedua kepercayaan (Taoisme & Konghucu) ini dianggap sebagai dasar dan fondasi utama peradaban orang Tionghoa sejak dua milenium yang lalu, dan kepercayaan inilah yang menjadi jangkar peradabannya. Kebudayaan Cina Benteng adalah salah satu kebudayaan sub-kultur Tionghoa Indonesia yang unik. Disebut unik, karena mereka dianggap "terlalu Pribumi kalau dikatakan sebagai orang Tionghoa dan terlalu Tionghoa kalau dikatakan sebagai orang Pribumi", seperti yang pernah dikatakan oleh wartawan kawakan Kwee Kek Beng pada sebelum perang dunia kedua yang lalu.









Mereka adalah hasil produksi dari sebuah sintesa dua kebudayaan (Tionghoa dan pribumi lokal) dan merupakan bagian integral dan aset kekayaan dari kebudayaan Indonesia yang majemuk. Hal ini disebabkan salah satunya oleh perkawinan campur antara masyarakat Tionghoa dengan masyarakat pribumi lokal yang kerap terjadi. Yang khas dari masyarakat Cina Benteng adalah pakaian pengantin yang dikenakan. Pakaian pengantin masyarakat Cina Benteng merupakan campuran budaya Cina dan Betawi. Pakaian pengantin laki-laki merupakan pakaian kebesaran Dinasti Ching, seperti terlihat dari topinya, sedangkan pakaian pengantin perempuan hasil akulturasi Cina-Betawi yang tampak pada kembang goyang. Pada upacara pesta perkawinan pasangan cina benteng ini, biasanya dilakukan dua kali pestanya, satu hari untuk tamu-tamu yang datang dari masyarakat pribumi yang Muslim dan satu hari lagi untuk masyarakat yang non-muslim (biasanya Tionghoa), hal ini dilakukan karena perbedaan makanan yang akan disajikan. Bagi yang non-Muslim biasanya disajikan panggang Babi Tangerang yang terkenal dan minuman Bir. Pada pesta perkawinan tradisional ini biasanya diramaikan juga dengan musik Gambang Keromong (dengan lagunya yang populer seperti, Cinte Manis Berdiri, Pecah Piring, Semar Gurem dan Onde- Onde, dll) serta tarian Cokek yang umummya datang dari daerah sekitar Kerawang dan pesta ini dianggap belum "afdol" kalau tidak ada penari cokek yang umumnya sensual.

06 Februari 2008

32 Tahun Etnis Tionghoa Menderita

dimas — Wed, 06/02/2008 - 00:28
http://www.matabumi.com/berita/32-tahun-etnis-tionghoa-menderita

Bagaimanapun, Imlek di negeri ini pernah amat ditentukan oleh kebijakan Pak Harto. Imlek dan segala hal yang terkait dengan pernak-perniknya pernah dilarang dalam rezim Soeharto. Bukan hanya terkait Imlek, kehidupan warga Tionghoa amat menderita akibat kebijakan Soeharto yang anti-Tionghoa Memang Pak Harto menjadikan beberapa konglomerat Tionghoa di masa itu, seperti Liem Sioe Liong dan Bob Hasan. Namun mereka tak lebih sebagai broker atau cukong dan menjadi sapi perah rezim.

Gara-gara para konglomerat itu, stereotip Tionghoa pasti kaya gampang dipercaya. Akibatnya orang sulit mempercayai fakta bahwa 65-70 persen warga Tionghoa di Indonesia sesungguhnya miskin, seperti diteliti Eddy Prabowo Witanto, pakar masalah Tionghoa dari Universitas Indonesia. Dalam sebuah seminar yang diadakan Unika Widaya Mandala Surabaya pada 26 Januari lalu, Soedrajad Djiwandono bilang, belum pernah ada satu survei pun yang membuktikan "fakta" 70% ekonomi negeri ini dikuasai etnis Tionghoa.

Sesungguhnya kebijakan Soeharto terhadap etnis Tionghoa dalam banyak hal mengadopsi kebijakan serupa di era penjajahan Belanda. Jika di era Orba ada politik broker atau cukong, rezim kolonial juga menjadikan etnis Tionghoa sebagai penarik pajak dan menempatkannya secara berbeda sebagai warga Asia Timur Raya yang berbeda dengan warga pribumi.

Dengan Pass and Zoning System, orang Tionghoa ditempatkan dalam "ghetto" (Pecinan) dan jika mau keluar masuk kawasannya harus menunjukkan surat. Lalu guna mengawal kebijakan yang diskriminatif itu, pemerintah kolonial mendirikan Kantoor voor Chineeesche Zaken (KCZ). Akhirnya relasi yang harmoni (peaceful coexistence) antara etnis Tionghoa dengan yang lain di Nusantara berubah jadi prasangka sosial (social prejudice).

Dalam beberapa hal, rezim Soeharto justru lebih kejam daripada kolonial, karena Orba menerapkan apa yang disebut "cultural genocide" atau pembunuhan budaya Tionghoa meminjam istilah Geoffrey Robertson. Jika Belanda masih mengizinkan perayaan Imlek, Orba malah melarangnya. Lewat Inpres No 14/1967 yang dibuat Soeharto, segala hal terkait dengan agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa, termasuk Imlek terlarang dari muka umum. Barongsai atau liang liong harus sembunyi; huruf-huruf atau lagu Mandarin tidak boleh diputar di radio. Sekolah-sekolah berbahasa Mandarin ditutup.

Dalam 32 tahun, mayoritas etnis Tionghoa secara umum menderita, kecuali yang bisa menggelayut di dekat Istana Cendana. Kehidupan etnis ini diawasi seperti rezim Apartheid Afsel dulu mengawasi warga kulit hitam. Etnis Tionghoa diawasi karena dinggap mendukung Bung Karno dan berkiblat ke Tiongkok dan mendukung Peristiwa 1965.

Pokoknya secara singkat bisa diungkapkan jika di awal rezim Soeharto, etnis Tionghoa begitu menderita, menjelang lengsernya pada 21 Mei 2008, etnis inipun menjadi tumbal, yakni dalam Tregedi 13-15 Mei 1998. Selain ratusan korban diperkosa, tragedi itu menyebabkan kerugian paling sedikit Rp 2,5 triliun atau 238 juta dolar AS (Damar Harsanto, May Riots Still Burns Into Victim's Minds, The Jakarta Post, 14/5/2002).

Syukurlah seiring lengsernya Pak Harto, angin kebebasan berembus di negeri ini. Pada 17 Januari 2000, Gus Dur mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2000, isinya mencabut Inpres No 14/1967 yang dibuat Soeharto.Namun di sana-sana masih ada praktik buruk, semisal warga Tionghoa masih sulit mengurus KTP. Satu lagi yang penting direnungkan, etnis Tionghoa jangan merasa sebagai kelompok yang paling menderita di bawah rezim Soeharto. Kita perlu mengaca pada Bung Karno, Bung Hatta, dan para korban HAM di masa rezim Orba yang mungkin lebih menderita.

Meski begitu, kita jangan hanya menyalahkan semua dan menimpakan semua kesalahan hanya pada Pak Harto seorang. Ada banyak orang yang mempengaruhi keputusan dan tindakannya. Untuk itu, saya menghimbau etnis Tionghoa memaafkannya. Yang tidak mau memaafkan, silakan saja, karena kita bisa memahami alasannya. ***